TINGKAT SELF AWARENESS MASYARAKAT SELAMA PANDEMI COVID-19

By: Dhea Salsabila

       Virus Corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernafasan. Virus corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, pneumonia akut, sampai kematian. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini telah berevolusi menjadi pandemi yang mengharuskan orang di seluruh dunia untuk mengambil tindakan segera agar dapat meminimalkan resiko penyebaran virus ini. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko penyebaran virus corona ini adalah dengan cara mencuci tangan minimal selama 20 detik, melakukan imbauan pemerintah untuk stay at home, melakukan physical distancing, dan lain sebagainya.     
    Seperti yang kita ketahui, Pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi segala sisi kehidupan masyarakat. Tidak hanya berdampak bagi fisik masyarakat, namun psikis pun ikut terkena dampaknya. Seperti adanya anjuran physical distancing yang membuat beberapa orang memiliki jarak emosional dengan orang-orang terdekatnya. Sehingga, beberapa orang ada ynag merasakan bahwa anjuran ini merupakan tekanan dan beban berat untuknya. Oleh karenanya, kesehatan mental adalah hal yang sangat penting selama virus corona mewabah di dunia ini. Orang yang tidak aware dengan dirinya dan lingkungannya akan membuat terganggunya kesehatan mental orang-orang yang telah menerapkan imbauan pemerintah seperti untuk tetap dirumah saja, melakukan physical distancing, memakai masker, dan mencuci tangan untuk memutus rantai penyebaran serta para tim medis yang telah berjuang menjadi garda terdepan dalam penanganan virus corona ini. Hal ini dikarenakan, semakin banyak orang yang berkerumun maka peningkatan kasus positif akan semakin tinggi yang mana akan membuat virus ini akan lama berakhirnya. 
     Terdapat hal penting yang dapat kita lakukan agar meminimalisir resiko penyebaran virus corona dan tetap menjaga kesehatan mental semua pihak yaitu dengan cara  meningkatkan self awareness atau kesadaran diri. Self awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Kesadaran diri juga dapat diartikan sebagai keadaan dimanaa seseorang bisa memahami dirinya sendiri dengan setepat-tepatnya. Menurut Duval dkk (dalam Morin, 2011), self awareness mengacu pada kapasitas menjadi objek perhatian sendiri. Dalam keadaan ini seseorang secara aktif mengidentifikasi, memproses dan menyimpan informasi tentang diri. Seseorang dapat melihat dan memproses rangsangan dari lingkungan tanpa secara ekspilist mengetahui bahwa ia melakukannya. Seseorang menjadi sadar diri ketika merefleksikan pengalaman dan memproses rangsangan.
   Kesadaran diri juga dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk memahami apa yang dipahami dan dibutuhkan untuk memfasilitasi pengambilan keputusan sendiri. Kesadaran diri memiliki persepsi yang jelas tentang kepribadian, termasuk pikiran, keyakinan, motivasi dan kekuatan. Kesadaran diri membuat kita untuk memahami orang lain, bagaimana mereka menilai diri kita sendiri, sikap dan tanggapan kita terhadap mereka saat ini.
    Dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari, self awareness atau lebih dikenal kesadaran diri memiliki beberapa ciri-ciri seperti yang diungkapkan Solso (dalam Kusumaningrum, 2016) bahwa karakteristik kesadaran diri meliputi Attention, Wakefullnes, Architecture, Recall of Knowledge dan Emotive. 
  1. Attention atau perhatian, ialah dimana pemusatan sumber daya mental ke hal-hal eksternal maupun internal. Individu memperhatikan suatu obyek dari luar dirinya untuk mendapatkan kesadaran tanggung jawab, selain isyarat-isyarat eksternal, individu dapat mengalihkan perhatian-perhatian ke dalam diri dan merenungkan pikiran-pikiran pribadi, memori-memori, cita-cita, sehingga kesadaran diri akan dapat terbentuk. 
  2. Wakefull atau kesiagaan merupakan suatu kondisi mental yang dialami seseorang sepanjang hidupnya dalam setiap hari. 
  3. Architecture sebuah aspek struktur fisiologis, dimana kesadaran bukanlah sebuah proses tunggal yang dilakukan oleh sebuah neuron tunggal, melainkan dipertahankan melalui sejumlah proses-proses neurologis yang diasosiasikan dengan interpretasi terhadap fenomena sensorik, motorik, kognitif, dan emosional, yang ada secara fisik maupun secara imajinatif. Tindakan-tindakan tersebut tampaknya berlangsung otomatis sebagai hasil dari pengalaman. Tindakan-tindakan lain memerlukan intervensi sadar dan kompleks. 
  4. Recall of knowledge adalah proses pengambilan informasi tentang pribadi yang bersangkutan dan dunia disekelilingnya. Kesadaran memampukan manusia mendapatkan akses ke pengetahuan melalui proses recall dan rekognisi terhadap informasi mengenai diri pribadi dan mengenai dunia ini. 
  5. Emotive ialah suatu kondisi sadar, sebagai bentuk perasaan atau emosi. Emosi di timbulkan oleh kondisi internal saat individu merespon peristiwa-peristiwa eksternal, saat individu berusaha mendeskripsikan emosi-emosi subyektif tersebut kepada orang lain, perasaan-perasaan tersebut persis sebagai mana yang individu rasakan. 
       Kesadaran penyebaran epidemi sangat penting dalam menekan penyebaran penyakit (virus). Publik dapat memahami ancaman penyakit melalui platform yang ada di jejaring sosial dan media massa. Pengetahuan dan kesadaran tentang penyakit ini penting untuk melakukan tindakan pencegahan yang dapat meminimalkan resiko paparan penyakit. Secara teori, gaya perilaku kesehatan seseorang dapat membantu dalam meningkatkan kesadaran dan persepsi mengenai tingkat keparahan atau kerentanan penyakit hingga tindakan pencegahan yang dapat diambil.
       Seperti yang diketahui, virus corona bukan satu-satunya virus yang pernah mewabah di dunia. Pada beberapa tahun lalu, dunia digemparkan oleh mewabahnya virus H1N1 (Flu Babi) yang disebabkan oleh virus orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi, H5N1 (Flu Burung) yang disebabkan oleh virus influenza tipe A yang ditularkan oleh unggas ke manusia serta Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) atau yang disebut juga dengan sindrom pernafasan Timur Tengah, yang mana disebabkan oleh coronavirus dan lain sebagainya. 
       Terdapat beberapa penelitian mengenai kesadaran masyarakat pada saat menghadapi virus tersebut. Seperti pada saat virus H1N1 (Flu Babi) muncul di Meksiko, banyak terjadi penolakan untuk melakukan tindakan pencegahan termasuk menggunakan masker dan menerima vaksinasi. Hal tersebut terjadi karena adanya kesenjangan pengetahuan  dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.
       Ketika MERS-CoV mewabah, dilakukan penelitian mengenai kesadaran dan pengetahuan dengan subjek orang Saudi Arabia dan Non-Saudi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran dan pengetahuan terhadap MERS-CoV pada orang Saudi Arabia lebih baik dibandingkan dengan orang Non-Saudi. Hal ini dikarenakan kurangnya otoritas kesehatan di negara Non-Saudi untuk mengambil peran dalam berbagi informasi mengenai virus ini.
        Baru-baru ini, dilakukan penelitian oleh Wolf dkk mengenai kesadaran masyarakat pada saat corona ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 24,6 % orang menyatakan bahwa mereka sangat khawatir terinfeksi virus corona dan 12,9 % orang menyatakan bahwa mereka tidak khawatir sama sekali.  Sangat sedikit peserta (9,5%) yang percaya bahwa mereka pasti atau mungkin terinfeksi virus corona. Ancaman wabah ini dinilai lebih serius oleh lansia yang berusia 70 tahun keatas dan mereka yang memiliki penyakit kronis. Selain itu hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta perempuan, orang yang berkulit hitam, orang yang hidup dibawah tingkat kemiskinan, orang yang kurang pengetahuan terhadap kesehatan dan orang yang belum menikah, secara signifikan lebih cenderung menanggapi bahwa “sama sekali tidak mungkin” mereka akan terinfeksi COVID-19.
    Berbagai upaya pencegahan dalam menangani virus corona ini sudah dilakukan. Namun, butuh kesadaran dari masing-masing individu untuk menekan laju kasus positif di Indonesia. Dilansir dari VOI tanggal 23 April 2020, Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo mengatakan bahwa upaya apapun yang telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka penyebaran virus ini akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat dalam menjalankan kebijakan tersebut. Di Italia misalnya, minimnya kesadaran masyarakat atas bahayanya virus ini membuat penularannya lebih cepat. Masyarakat masih berkerumun tanpa mengikuti kebijakan jaga jarak ataupun alat pelindung diri. Meski italia merupakan negara maju yang memiliki teknologi kesehatan yang cukup baik, hal ini tak lantas dapat mencegah penyebaran virus tersebut tanpa dibarengi kesadaran masyarakatnya.
        Dalam menghadapi pandemi COVID-19, ada beberapa negara yang masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi. Dilansir dari Kompas. Com tanggal 21 Maret 2020, Nyenswah mengungkapkan bahwa banyak negara di Asia yang belajar dari pengalaman SARS di tahun 2003. Disana  juga ada kesadaran menjalankan hidup higienis yang bukan hanya untuk menghindari penyakit tapi juga agar tidak menjadi carrier (menulari orang lain). Di Cina, selain pemerintahnya cepat tanggap menangani virus corona ini, mayarakat Cina juga memiliki kesadaran yang baik dalam kewaspadaan terhadap virus COVID-19. Di Taiwan, Singapura dan Hong Kong, banyak tersedian cairan anti bakteri di jalan dan pemakaian masker juga biasa dilakukan, bahkan sebelum mewabahnya virus corona. 
     Di Indonesia, kesadaran diri masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini ditunjukkan banyaknya masyarakat yang masih melanggar aturan-aturan pemerintah seperti masih ada masyarakat yang berkerumun ditengah PSBB ini, masih ada yang mudik dan masih ada yang pergi ke mall maupun pasar untuk membeli baju lebaran. Selain itu, masyarakat juga memiliki anggapan bahwa jika memang mereka ditakdirkan akan terinfeksi virus corona ini, maka mereka pasti akan terinfeksi. Anggapan seperti itulah yang membuat masyarakat tidak aware dengan dirinya maupun lingkungannya. Padahal kesadaran diri dan kesehatan mental merupakan poin penting dalam penanganan corona ini. Seharusnya masyarakat Indonesia lebih taat kepada aturan-aturan atau kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. 
        Kasus-kasus pembubaran massa yang kerap terjadi menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk saling memproteksi diri. Dilansir dari Kompasiana.com tanggal 2 April 2020, Ubedillah Badrun (Sosiolog Universitas Negeri Jakarta) mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih tergolong irrational society. Karakter masyarakat irasional ditandai dengan kondisi masyarakat yang tak patuh terhadap peraturan atau imbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah.Virus ini dianggap sama dengan virus influenza biasa sehingga masyarakat mengabaikan setiap imbauan. Pengabaian imbauan terjadi karena edukasi rendah yang dimiliki oleh beberapa masyarakat. Bukan karena media dan konten edukasi yang tidak memadai, namun ada saja masyarakat yang tidak ingin mengedukasi diri sendiri. Anggapan “hidup-mati ditangan Tuhan” lebih dipercaya dibandingkan dengan imbauan pemerintah. Stigma yang didasarkan pada aspek religiusitas dan landasan irasional lainnya membuat mereka mengabaikan aturan. Jika stigma  masyarakat masih demikian, penyebaran COVID-19 akan semakin sulit dikendalikan.
    Selama pandemi banyak masyarakat Indonesia yang mengabaikan aturan pemerintah dalam hal memakai masker, jaga jarak bahkan menimbun masker dan lain sebagainya. Seperti pada kasus penutupan McD Sarinah, banyak orang yang berkerumun ditengah corona hanya untuk melihat penutupan McD tersebut pada tanggal 10 Mei kemarin. Dilansir dari detiknews.com tanggal 11 Mei 2020, pihak McDonalds (McD) Sarinah Thamrin membuat sebuah kegiatan yaitu mengadakan seremonial penutupan McD Sarinah. Hal tersebut menimbulkan perhatian banyak masyarakat yang sedang melintas sehingga membuat masyarakat justru ikut berkumpul di lokasi. Selain itu terdapat kasus penumpang pesawat di Bandara Soekarno Hatta (Soetta) yang membludak tanpa physical distancing yang mana seharusnya mayarakat dilarang untuk mudik dan tetap mengikuti protokol COVID-19. Warga berkerumun di Pasar Jiung Kemayoran dan banyaknya warga yang mendatangi mall saat PSBB dengan alasan untuk membeli baju serta kue lebaran. Selain itu juga ada kasus seorang influencer yang mengeluarkan statement seperti meremehkan COVID-19. Padahal seharusnya seorang influencer itu memberikan contoh yang baik kepada masyarakat atau mengedukasi masyarakat seperti menghimbau masyarakat untuk tetap mengikuti himbauan pemerintah guna mencegah penyebaran COVID-19 agar masyarakat bisa aware dengan dirinya maupun lingkungannya, bukan mengeluarkan statement yang tidak mengedukasi dan seakan-akan meremehkan corona ini. Bahkan pada saat pertama kalinya Indonesia mengumumkan kasus COVID-19 ini, beberapa masyarakat Indonesia masih tenang-tenang saja, bahkan masih ada yang pergi berlibur. Beberapa hal tersebut merupakan contoh kecil bahwa masyarakat kurang aware dengan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Rendahnya self awareness pada masyakarat-lah yang membuat terjadinya banyak peningkatan kasus per harinya.
    Oleh karena itu, saat ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran diri (self awareness) masyarakat agar kita semua dapat mencegah kenaikan kasus positif di Indonesia ini. Kita harus tetap belajar bagaimana Cina, Jepang dan Korea Selatan yang memiliki populasi yang banyak tapi tetap dapat menekan kasus positif di negara tersebut. Salah satu caranya yaitu masyarakatnya memiliki kesadaran diri (self awareness) yang tinggi. Kesadaran yang diperlukan agar virus ini cepat berakhir yaitu dengan kita tetap melakukan dan mengikuti semua aturan yang dianjurkan oleh pemerintah seperti tetap memakai masker, melakukan physical distancing, stay at home, tidak berkumpul atau bekerumun, menerapkan pola hidup sehat dan lain sebagainya. Selain itu, kita sebagai masyarakat harus menghargai usaha tim medis yang menjadi garda terdepan serta masyarakat yang telah patuh pada aturan pemerintah serta pemerintah yang telah membuat kebijakan untuk pencegahan virus corona ini. Jika kita semua sebagai masyarakat Indonesia, aware dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar kita maka kita dapat mengurangi kenaikan kasus positif dan virus corona akan cepat berakhirnya. 
        Walaupun pada saat ini, Indonesia akan menerapkan New Normal, tetapi masyarakat Indonesia diwajibkan untuk tetap memiliki self awareness yang tinggi agar laju kenaikan kasus positif tidak melesat. Self awareness yang tinggi merupakan kunci pemutusan rantai virus corona ini. Selama New Normal, kita tidak boleh lengah dan tetap mengikuti anjuran pemerintah seperti memakai masker, tetap melakukan physical distancing dan tetap menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat seperti sering mencuci tangan minimal selama 20 detik, melakukan aktivitas fisik selama 30 menit dan tetap makan makanan yang bergizi. Selain itu jika ingin pergi keluar, didalam tas kita harus terdapat handsanitizer, masker cadangan, tissue basah dan tissue kering, alat makan pribadi serta alat shalat pribadi. Dengan tingginya kesadaran diri kita sebagai masyarakat Indonesia, maka akan menjadikan Indonesia semakin baik kedepannya dalam hal pencegahan virus corona ini. Sehingga kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah akan dapat menekan laju peningkatan kasus virus corona ini
 
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Andayani, Dwi. (2020, 11 Mei). Satpol PP DKI: Kerumunan di Sarinah Karena Acara yang Digelar McD. Diakses pada tanggal 18 Mei 2020 dari https://m.detik.com. 

Alodokter. (2020, 22 Maret). Virus Corona – Gejala, Penyebab dan Cara Mencegah. Diakses Pada 15 Juni 2020, dari https//www.alodokter.com. 

Althobaity, Hosam M., dkk. 2017. Knowledge and Awareness of Middle East Respiratory Syndrome    Coronavirus Among Saudi and Non-Saudi Pilgrims. International Journal of Health Science, 11, 20-       25.

Balkhy, Hanan H, dkk. 2010. Awareness, Attitudes, and Practices Related To The Swine Influenza Pandemic Among The Saudi Public. BMC Infectious Diseases, 1-7. 

Chen, Xiaolong, dkk. Self Awareness Based Resource Allocation Strategy for Containtment of Epidemic Spreading. Physics, 1-9.

Kusumaningrum, Elza. 2016. Perbedaan Perilaku Prososial dan Self Awareness Terhadap Nilai Budaya Lokal Jawa di Tinjau dari Jenis Kelamin Pada Siswa SMA Kyai Ageng Basyariyah Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Jurnal Ilmiah Counsellia, 6, 17-30.

Liputan6.com. (2020, 14 Mei). Viral Penumpang Pesawat di Bandara Soetta Membludak Tanpa Physical Distancing. Diakses pada 14 Juni 2020 dari https://m.liputan6.com. 

Manullang, Ruth. (2020, 2 April). Tingkat Kesadaran Masyarakat Rendah Terhadap Penyebaran Virus Corona? Mengapa?. Diakses pada 17 Juni 2020 dari https://www.kompasiana.com/. 

Morin, Alain. 2011. Self Awareness Part 1: Definition, Measures, Effects, Functions, and Antecedents. Social and Personality Psychology Compass, 807-823.

Santosa, Bagus. (2020, 23 April). Kata Pakar, Kesadaran Bahaya COVID-19 Perlu Untuk Cegah Penyebaran Pandemi. Diakses pada 17 Juni 2020 dari https://voi.id. 

Shafira, Vidia Elfa. (2020, 15 Mei). Ucapannya yang Dinilai Remehkan Corona Viral, Influencer Indira Kalistha Dikecam. Diakses pada 14 Juni 2020 dari https://www.pikiran-rakyat.com. 

Sutrisna, Tria. (2020, 17 Mei). Warga Berkerumun di Pasar Jiung Kemayoran, Satpol PP: Nanti Malam Kita Jaga. Diakses pada 14 Juni 2020 dari https://megapolitan.kompas.com. 

Utomo, Ardi Priyatno. (2020, 21 Maret). 5 Strategi Ini Dipakai Banyak Negara Untuk Kendalikan Wabah Virus Corona. Diakses pada 17 Juni 2020 dari https://www.kompas.com. 

Wolf, Michael S., dkk. 2020. Awareness, Attitudes and Actions Related to COVID-19 Among Adults With Chronic Conditions at The Onset of The U.S. Outbreak. Annals of Internal Medicine, 1-10.

#KknIainBatusangkar2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Komentar

Posting Komentar